Menjadi Nafas Hidup

David Irwandi mengibaratkan dunia grafiti bukan hanya sekedar hobi, tetapi sudah menjadi bagian separuh hidupnya. Dia mengumpamakan grafiti seperti kaleng cat semprot, semakin dikocok, adrenalin semakin meningkat untuk berkreasi

“Setiap semprotan gas aerosol warna apapun yang keluar dari kaleng cat semprot, menjadi nafas hidup saya. Hasil kreasi grafiti yang diciptakan bukan untuk dinikmati diri saya, tetapi untuk masyarakat banyak yang melihatnya, “kata David

Awal ketertarikan David pada grafiti dimulai selepas lulus SMA, saat kuliah di Interstudy Jakarta jurusan desain komunikasi visual. Melihat sekumpulan anak muda yang mengecat tembok menggunakan cat semprot, sehingga menghasilkan gambar yang unik, membuat dia penasaran

“Saya otodidak belajar grafiti, awalnya cuma melihat, kenalan dengan anak-anak grafiti, kemudian mulai  penasaran, timbul keinginan untuk mencoba. Justru karena keseringan melihat orang corat-coret tembok, dari proses awal sampai jadi, saya belajar tehnik dasarnya, “jelas David

Ketua LSA ini menambahkan, tehnik dasar grafiti yang dipelajarinya mulai dari huruf (font), bayangan (shadow), mewarnai, outline, ornament dan lain sebagainya. Untuk media (tempat) grafiti bisa dimana saja, seperti tembok, banner sampai rolling door, yang penting obyeknya datar

Kecintaannya terhadap grafiti membuat kuliahnya di Interstudy Jakarta terbengkalai, akhirnya dia memutuskan kembali ke Bandar Lampung. Justru dengan kembali ke Bandar Lampung, dia menemukan teman-teman baru yang memiliki hobi yang sama

Ada satu hal yang membuat David heran dengan suasana grafiti di Bandar Lampung dibandingkan kota Jakarta, Bandung, Surabaya. Anak-anak muda yang gemar grafiti, bebas corat-coret di tembok yang memang bangunannya tidak dipergunakan

“Dulu pas saya di Jakarta, anak-anak grafiti main kucing-kucingan dengan aparat, itupun harus malam hari. Disini (Bandar Lampung), siang hari aja boleh corat-coret tembok, asal di tempat yang sesuai, tanpa harus takut, “terangnya

David mengutarakan, grafiti di Bandar Lampung termasuk legal dibandingkan kota-kota besar di Pulau Jawa. bahkan Koa seperti Jakarta, Bandung,ada Perda yang mengatur larangan merusak fasilitas umum dengan aksi corat-coret

Pria yang hobi melukis ini, punya satu pengalaman unik saat beraksi corat-coret tembok pada malam hari. Ada seorang warga yang menghampirinya dan bertanya sedang melakukan apa, sudah izin atau belum

David pun menjawab, tidak tahu harus izin kepada siapa, alih-alih seperti petugas trantib, ternyata warga itu ingin minta uang untuk keamanan. David menolak, ternyata warga itu mau sparkboard sepeda motornya di cat

Pria kelahiran Bandar Lampung 25 Juni 1985 ini memegang satu prinsip hobi grafiti yang ditekuninya. Berekspresi dengan corat-coret di tembok tidak cukup hanya sekedar mementingkan keinginan sendiri

Tapi yang harus diperhatikan adalah, sifat egois harus dibuang jauh, mengkuti kata hati ingin membuat kreasi apa jauh lebih penting. Ditambah lagi, hasil karya grafiti yang dihasilkan disukai orang, ada pesan-pesan moral dan bisa mewakili kondisi sosial yang sedang terjadi di Indonesia (tin)

Biofile

Nama : David Irwandi

Nickname : godf*ckego

TTL : Bandar Lampung, 25 Juni 1985

Alamat : Komplek Yuka, Panjang, Bandar Lampung

Pekerjaan : Marketing produksi dan desain di Flow Distro, Ketua Lampung Street Art (LSA)

Hobi : jalan-jalan dengan motor tua, melukis, grafiti

Pendidikan :

SD Negeri 1 Panjang Selatan

SMP  Negeri 3, Bandar Lampung

SMA Utama 2, Bandar Lampung

Diploma 1 Master Komputer

Jurusan Ilmu Komunikasi Unila (ekstensi 2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: