Lampung Miskin Akan Pengakuan dan Kebanggaan

Penemu dan Pencipta Pertama Batik Lampung

Sambutan hangat Tribun rasakan saat berkunjung di kediaman Andriand Sangadjie, budayawan Lampung, sekaligus pencetus ide pertama membuat batik Lampung Kamis, (8/10). Dia mengatakan, sudah lama menolak untuk diwawancarai seputar batik dan budaya Lampung karena merasa jenuh.

“Kita sudah kehilangan jejak, dan saya muak secara budaya! Lampung miskin akan pengakuan dan kebanggaan terhadap identitas yang menjadi ciri khas, “katanya, penuh emosi.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, bapak tiga anak ini mengatakan, Lampung sebenarnya tidak mempunyai batik Justru karena dia orang yang pertama kali penemu dan pencipta awal batik Lampung mampu mewujudkan hal tersebut.

Karya orisinal dia diwujudkan dengan legitimasi hukum hak atas kekayaan intelektual dari Departemen Hukum dan Ham. Andrian menambahkan, keberadaaan dirinya juga sudah diakui dunia, yang ditasbihkan melalui badan PBB Unesco 2 Oktober 2009 lalu. Diwujudkan diakuinya batik sebagain warisan budaya dunia

Andriand menyebut penegakkan hukum di Indonesia bahkan di dunia sebagai Madame X. Hukum hanya dibuat untuk menyelamatkan penguasa, meski sudah memiliki hak paten atas batik Lampung, banyak orang menjiplak hasil karyanya.

“Saya kan cuma penemu dan pencipta batik, tapi bukan pengusaha, masalalahnya, coba dong… mereka-mereka semua itu (yang mengaku batik Lampung,(red) minta motif kepada saya. Kok tiba-tiba ngomong batik Lampung, padahal mereka tau batik Lampung milik saya, “kata Andrian, si pencipta batik Lampung yang sesungguhnya.

Menurut Andriand, sejak tahun 1986, perkembangan batik Lampung wajar-wajar saja, secara ekonomi (political of economy) juga bagus. Kelemahan batik Lampung terletak pada orisinalitas karya yang dihasilkan perancang busana.

Pria kelahiran Gubukserok, 8 April 1947 ini mengungkapkan, tercetusnya ide membuat batik Lampung berangkat dari fanatisme kedaerahan yang positif sebagai putra Lampung keturunan, bukan tanjakan. Mei 1974, dia mulai mengembangkan cakrawala budayanya mencari inspiras.

“Saya berpikir, bagaimana sih kita membesarkan tapis ini sebagai identitas asli Lampung yang bisa diwujudkan dalam batik. Dimana bisa menjadi busana yang bisa dipakai sehari-hari oleh masyarakat sendiri, apalagi  Lampung terdiri dari negeri 84 Kebuayan dan 46 suku , “ujarnya, sambil menghisap rokok dalam-dalam

Empat tahun waktu yang dibutuhkan Andriand merumuskan konsep apa yang bisa dijadikan sebagai ciri khas batik Lampung, meskipun pada dasarnya batik Jawa tetap menjadi pegangan. Sarjana Arsitektur ITB ini menggeluti proses pembatikan di Balai Research dan Penelitian Yogyakarta (sekarang menjadi Balai Kerajinan &Batik,red) mulai tahun 1974 sampai 1978.

Selama empat tahun tersebut, dia menelaah, mengamati, mendalami tentang ikon-ikon budaya Lampung, yang kemudian diimplementasikan sebagai batik. “Dari situ saya harapkan, jutaan motif yang dimiliki oleh budaya gayo to-lang-paw-hwang (sekarang menjadi Tulang Bawang, red) bisa kita pakai sehari-hari, “tuturnya

Kehadiran batik Lampung hasil masterpiece Andriand menghebohkan Indonesia pada waktu itu. Karena batik identik dengan Pekalongan, Solo, Yogyakarta. Banyak dan beragam penghargaan yang diterimanya selaku “pengembang seni kerajinan batik” Indonesia di luar pulau Jawa.

Sejak saat itu banyak pameran batik yang dilakukan, baik di dalam dan luar negeri. Menjawab pertanyaan Tribun motif apa saja yang dipamerkan, sontak dia berteriak, “Yeah!baru kali ini abang ditanyakan tentang hal itu,” ujarnya tertawa

Pria yang sehari -hari hidup dalam kesederhanaan ini membagi tiga terkait motif batikyang dibuatnya. Motif tersebut yaitu, pra sejarah (Primitif of art), sejarah dan modern of art.

Pria berambut panjang ini menjelaskan, motif pra sejarah  desain yang dibuat bedasarkan ikon-ikon budaya pra sejarah, misalnya gambar-gamabr yang ada di gua, ataupun tempat lain dari penemuan arkeolog. Motif sejarah bersumber dari hal-hal yang sudah kita pahami sebagai motif tradisional.

Contoh dari motif sejarah adalah yang sudah dipakai oleh tradisi masyarakat dimana sudah mengenal arti dari kesenian itu sendiri. Tapis, batik, serasa atau kumitir di pulau Jawa, menjadi acuan pembuatan motif batik sejarah.

Modern of art, dapat dipahami motif itu sudah mengenal kehidupan kekinian maupun dunia teknologi informasi. Contoh motifnya mengarah ke kontemporer, misalkan menggambar contoh gambar desain batik Lampung, kemudian menggunakan program komputer Corel Draw atau Photoshop (tin)

Biofile
Nama : Andriand Sangadjie
TTL : Gubukserok, 8 April 1947
Pendidikan:
S1 jurusan Arsitektur ITB
S2 Materials Science and Engineering, University of Pennsylvania Amerika Serikat
S2 Managemen of Art, Broadway University, Amerika Serikat
S3 Materials Science and Engineering University of Pennsylvania Amerika Serikat
Anak : Arie Mesante da Vinci
Rama Rotrigo
Citra Puspita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: