Kepuasaan Batin terpenuhi dengan Grafiti

Kepuasan batin terpenuhi, rasa gatal di tangan untuk corat-corat tersalurkan meskipun uang di dompet kosong karena membeli cat semprot, itulah yang menjadi ukuran komunitas Lampung Street Art (LSA) dalam seni grafiti. Uang yang dihabiskan untuk aksi corat-coret tembok pun tidak sedikit, bisa sampai Rp 500 ribu sekali boombing.

Boombing adalah istilah bagi kalangan grafiti saat melukis atau mencorat-coret tembok. Sedangkan orang yang melakukan aksi tersebut dipanggil boomber. Biaya yang besar untuk sekali boombing dihabiskan untuk membeli cat semprot aneka warna.

Rata-rata cat semprot yang dihabiskan, dipakai delapan orang. Masing-masing anggota menyumbang secara sukarela untuk membeli cat semprot, terkadang juga ada suntikan dana dari sponsor yang ingin memesan gambar terkait menjual produk.

Bau gas aerosol dari cat semprot cukup membuat hidung sedikit terganggu. Komunitas LSA mensiasatinya dengan memakai slayer ataupun masker untuk melindungi hidung.

Sebelum boombing, biasanya komunitas LSA menentukan tema apa yang akan dibuat, kemudian untuk gambar yang dihasilkan setiap anggota diberi kebebasan membuat karakter, tergantung kreatifitas masing-masing.

David Irwandi, ketua LSA menjelaskan, komunitas ini resmi berdiri 5 Juni 2007. Sebelum LSA berdiri, boomber di Bandar Lampung berjalan sendiri membuat grup saat melakukan aksi boombing.

David sendiri sebelum bergabung di LSA punya grup grafiti bernama Flash Squad beranggotakan dua belas orang. David bersama grupnya cukup kaget karena selain mereka, ada banyak boomber yang melakukan aksi corat-coret tembok di beberapa sudut kota Bandar Lampung dan gambarnya bagus

Flash Squad berinisiatif berkenalan dengan boomber yang tersebar di Bandar Lampung. Wicak, Ruly, Dewa, Rio, Yoga adalah beberapa boomber dengan tangan terbuka antusias berkenalan sesama penggemar grafiti

Mereka sepakat membentuk komunitas yang diberi nama Lampung Grafity Community (Latinity). Sempat berjalan sebentar, beberapa anggota mengusulkan perubahan nama, karena tidak semua anggota basicnya dari grafiti

“Ada anggota yang awalnya terjun di mural, yaitu melukis menggunakan kuas, cat tembok, cat minyak dengan media tembok dan kain kanvas. Sedangkan grafiti total menggunakan cat semprot, ” kata Rio, anggiota LSA

Akhirnya disepakati perubahan nama menjadi Lampung Street Art, didasari oleh baik mural ataupun grafiti memiliki kesamaan suka melukis dan menggambar walaupun alat yang digunakan berbeda. 

Saat ini LSA tidak rutin menggelar boombing, hanya waktu-waktu tertentu di hari -hari besar seperti HUT Kemerdekaan, Ibu Kartini, HUT kota Bandar Lampung, HUT Propinsi, sampai Idul Fitri, Pemilu 9 April yang lalu. Tapi LSA sering diundang mengisi suatu event yang memang ada sarana untuk aksi grafiti.

David mengungkapkan, walikota Eddy Sutrisno mendukung kegiatan LSA, selama itu positif, tidak melakukan aksi kekerasan dan tetap berada di jalur seni. Dukungan itu disambut gembira seluruh anggota, justru dijadikan pelecut, aksi grafiti murni karena hobi, tidak membuat kotor kota dan tidak asal-asalan menggambar

Selain grafiti dan mural, anggota LSA mempunyai keahlian melukis dengan kanvas, membuat paper craft, menyablon kaos, melukis sepatu dan sendal. Keahlian itu mendatangkan keuntungan, karena hasil karya yang dihasilkan memang untuk diperjualbelikan kepada masyarakat umum

Tercatat 25 orang bergabung menjadi anggota LSA, rata-rata sudah mempunyai skill menggambar. Hobi ini tidak hanya dijadikan trendsetter, harus ada pengorbanan materi untuk membeli cat semprot dan alat pendukung lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: