Rp 373 Juta Beli Harley Davidson Road King Classic

Menyukai motorHarley Davidson (HD) sejak kelas satu SMA, Ryan Madya Nandasyah mengaku baru memiliki tunggangan motor tersebut tahun 2004. Tak tanggung-tanggung, oleh ayahnya dia dibelikan motor Harley jenis Road King Classic, harga dipasaran saat itu Rp 373 juta.

“Telat banget ya baru punya motor tahun 2004, padahal dari tahun 1996 sudah suka Harley. Tapi waktu itu baru sebatas hobi kumpulin merchandise nya saja, “ujar Ryan saat ditemui Rabu sore (28/10).

HD Road King Classic dibeli oangtua Ryan di daerah Mabua Jakarta Selatan langsung dari dealer resmi Harley Davidson Indonesia. Kebetulan ayahnya juga gemar dengan motor besar tersebut, tak ayal karena hobi yang sama membuat mereka kompak untuk urusan motor

Saat ini di rumahnya ada tiga jenis motor HD, Ryan memiliki dua motor dan satu milik ayahnya. Jenis Road King Classic, Road King Custom dan Sportfter tipe Nightfter terparkir rapi di garasi.

Ryan menjelaskan, perbedaan motor Harley Road King Classic dan Custom terletak pada box sampingya. Jenis Custom, box terbuat dari bahan fiberglass ukuran besar, sedangkan tipe Classic berukuran lebih kecil.

Kapasitas silinder Harley tipe Classic 1600 cc sedangkan Custom hanya 1500 cc. Tipe Classic juga bisa ditingkatkan levelnya hingga level empat, dengan kata lain, kapasitas silinder bisa ditambah hingga mencapai 2000 cc, setara dengan mobil.

“Kalau tipe Sportfter bodynya jauh lebih ramping, lebih enak ga pakai box. Biasanya sih kalau jalan- jalan di sekitar kota lebih suka pake yang itu, “kata suami dari Ajeng Ariani ini.

Pria yang juga berprofesi sebagai Disc Jockey (DJ) ini mengaku, dua hari sekali menyempatkan waktu berkeliling kota mengendarai Harley miliknya. Kesibukannya bekerja sebagai PNS dan DJ membuatnya jarang touring.

“Hitung-hitung ngobatin rasa kangen juga sih, ga bisa setiap waktu touring dengan anggota klub Harley lainnya. Sekalian panasin motor, karena saya ga sempat setiap hari panasinnya, “lanjut Ryan.

Ryan menjelaskan, merawat motor Harley hampir serupa merawat kendaraan roda empat. Meski motor tidak dikendarai selama beberapa hari, cukup memanaskan mesinnya saja

“Idealnya sih untuk jenis Harley, panasin motor dibawa jalan sebentar di sekitar rumah. Sah -sah saja bila ada orang yang panasin  motor di garasi, tutur Ryan.

Ryan menambahkan, banyak orang menganggap motor besar saat dikendarai berat dan stang nya susah dikendalikan. Justru motor Harley Davidson dalam posisi mesin hidup, ringan saat dikendarai di jalan.

“Kalau mesin posisinya mati memang, repot untuk di parkir, kedua kaki harus digerakkan lebih lincah. Ada istilah body dancing untuk motor Harley, makanya pas di jalan saat mau manuver jadi enteng, “imbuhnya lagi.

Motor Harley Davidson termasuk kendaraaan roda dua yang safety, karena dilengkapi engine guard di bagian bawah mesin. Fungsi dari engine guard sebagai pelindung mesin jika saat berkendara tiba- tiba pengemudi jatuh dari motor.

Ryan mengatakan, meskipun jatuh dari motor apalagi dengan kecepatan tinggi, mesin tetap hidup dan 80 % body motor tidak hancur. Apabila pengemudi kehilangan keseimbangan dan coba menahan laju kendaraan dengan menahan enggunakan kaki justru lebih berbahaya, bisa menyebabkan kaki patah. (tin)

Biofile
Nama : Ryan Madya Nandasyah
Nick name : Phuture89
Ttl      : Teluk Betung, 14 Januari  1981
Alamat : Jl. Mawar, Rawalaut, Bandar Lampung
Hobi : membuat musik dan mendengarkan musik, naik motor
Istri : Ajeng Ariani
Anak : Shafina Raihanna Nandasyah
Pendidikan : SD Negeri 2 Teladan Bandar Lampung
SMP Negeri 5, Bandar Lampung
SMA Negeri 2, Bandar Lampung
Sarjana Hukum Unila
Motto : Harus jujur walaupun pahit, lebih baik dibenci tapi tahu apa yang dilakukan itu                                        benar
Motor
1. Harley Davidson Sportfter (2008)
Jenis : Nightfter
Mesin : 1200 cc
2. Harley Davidson Road King Custom (1999)
Mesin : 1500 cc
3. Harley Davidson Road King Classic (2004)
Mesin : 1600 cc

Leave a comment »

Koleksi 100 Buah Kaos Harley Davidson

Kecintaan Ryan terhadap Harley Davidson (HD)tidak hanya dengan memiliki motor besar tersebut, tapi juga mengoleksi merchandise. Lebih dari 100 buah kaos Harley Davidson dikoleksinya, bahkan ada yang dibeli dari Amerika Serikat melalui internet dan jasa seorang temannya yang tinggal disana.

Dua kaos yang menjadi favoritnya yang dibeli dari Negeri Paman Sam yaitu Daytona dan Bike Week yang merupakan event besar tahunan yang diselenggarakan Harley Davidson. Kaos Daytona Harley Davidson baru dibeli Ryan pertengahan tahun ini.

“Baru bisa koleksi kaosnya aja, belum sempet kesana (Daytona, Amerika Serikat) ikut langsung acara terbesar Harley yang dihadiri seluruh anggota resmi dari seluruh penjuru dunia. Event Daytona menjadi mimpi semua bikers Harley, yang memang harus dihadiri, “celetuk Ryan.

Dari SMA kelas 1 dia sudah mengoleksi merchandise Harley Davidson, tidak hanya kaos, tapi pernak pernik lainnya. Mulai dari jaket kulit, dompet sampai cincin bentuk tengkorak dan tulisan HD dimilikinya.

“Awalnya sih karena suka nonton film barat, liat bikers pake motor Harley, kok keren banget kayaknya. Punya motor gede, fashionable ala bikers, touring rame-rame, kompak, dulu belum bisa beli Harley, makanya baru bisa koleksi merchan nya doank, “ujarnya tertawa.

Ryan sendiri mengaku akan tetap mengoleksi aneka merchandise HD, apalagi yang dirasa unik dan bernilai tinggi. “Namanya juga hobi, mau gimana lagi, susah untuk berhenti, sudah cinta banget sih, “Imbuhnya.

Bapak satu anak ini sedikit miris melihat anggota Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Lampung jarang kumpul bersama. Belum tentu dalam satu bulan sekali ada event, atau sekedar nongkrong bareng di suatu tempat dengan sesama anggota

Menurut Ryan, apabila faktor kesibukan aktifitas yang menjadi penghalang untuk bertemu rutin sangatlah naif. Esensi sebagai seorang bikers menjadi hilang, kumpul bareng hanya saat ada event touring besar saja. (tin)

Leave a comment »

Enam Tahun Menunggu Rekaman Album

Momo menjelaskan, pengertian Geisha adalah seniman yang bertugas menghibur penonton yang berkunjung ke kedai teh. Mulai dari menunjukkan keterampilan menampilkan kesenian khas Jepang seperti menari, menyanyi dan memainkan alat musik.

Proses menjadi seorang Geisha membutuhkan waktu yang lama, bahkan sudah dilatih sejak kecil. Apabila sudah mengusai pekerjaan menjadi Geisha, maka bisa dikatakan berhasil melewati semua ujian dan tantangan.

“Kami ambil makna positifnya aja kenapa nama bandnya Geisha. Kalau dihitung sejak SMA sampai sekarang, enam tahun waktu yang dibutuhkan hingga bisa rekaman album, yang menjadi mimpi kami, prosesnya juga panjang “kata Momo.

Robby menambahkan, saat menjadi juara A Mild Wanted 2007 regional Sumatra bagian Tengah, sampai mengikuti babak grand final, nama band mereka Jingga. Sebelum peluncuran album kompilasi 12 band finalis A Mild Wanted 2007, berganti nama menjadi Geisha.

“Sudah ada band lain yang memakai nama Jingga, sering terjadi hal seperti itu. Band berganti nama menjelang rekaman album bedasarkan pertimbangan komersil dari pihak label, ungkap Aan, Drummer Geisha.

Dua belas lagu dalam album perdana Geisha yang bertajuk Anugrah Terindah bergenre pop. Anugrah Terindah menjadi nama album, kembali lagi ke perjuangan band ini demi menembus dapur rekaman

“Dengan pihak Musica Studio dikontrak untuk tiga album album. Ada opsi, album ketiga bisa pindah ke label lain atau tetap di Musica, “kata Robby, gitaris Geisha.

Band yang berdiri Desember 2003 dan berasal dari satu sekolah SMA Negeri 2Pekanbaru ini selalu antusias menghibur penonton. Mulai dari tampil di televisi, cafe, bahkan konser yang dihadiri ribuan penonton.

Momo bercerita, dua minggu lalu Geisha bersama Vierra konser di Purwokerto, stadion disesaki penonton. Sampai ada yang ga bisa masuk ke stadion karena penuh dan ada yang nonton dari atas genteng rumah, “ungkapnya.

“Penonton di Jawa memang lebih heboh, kalau tampil di Sumatera chemistrynya lebih kuat. Mungkin karena kami dari Pekanbaru, jai kayak tampil di rumah sendiri, kata Momo.

Saling bercanda, terbuka santu sama lain dan menjalani tour dengan santai menjadi kunci utama Geisaha mengatasi rasa jenuh. Mereka sepakat, meski sudah dikenal banyak orang, jalan di depan masih panjang menapakai karir sebagai musisi. (tin)

Leave a comment »

Suka Lagu My Bonnie

Momo, vokalis Geisha mengaku tidak pernah ikut les vokal meskipun dia suka menyanyi. Suara khasnya yang lembut dianggap anugerah hingga memberi ciri khas tersendiri di band Geisha

“Dari kecil sudah suka nyanyi, justru lebih sering nyanyi lagu barat. Saya suka baget lagu My Bonnie, tuh lagu wajib saya dari kecil, ” kata Momo tertawa saat ditemui, Senin (26/10) di radio Star Fm Bandar Lampung.

Sering mengikuti lomba menyanyi dan kegiatan kesenian laiinya di Pekanbaru menambah kecintaanya di dunia seni. “Sekarang menjadi vokalis Geisha, karena temenan sejak SMA, mereka tertarik dengan karakter suara saya, katanya sih khas, “ujar Momo

Pemilik nama lengkap Narova Morina ini mengatakan, sejak album pertama Geisha dluncurkan 1 Juni 2009 lalu, banyak tawaran ampil mengisi acara di berbagai even. Kondisi fisik dan penampilan sebagai anak band harus selalu dijaga.

“Tampil di TV, penampilan luar menjadi penilaian, karena ditonton pemirsa, kalau kita ga semangat, lemes mainnya, image band ikut jelek. Apalagi misal tampil di outdoor, harus membawakan sepuluh lagu lebih, vokalis menjadi tulang punggung, “kata cewek kelahiran 7 Juni 1986 ini.

Stage act dan kostum saat konser, Momo lebih suka tampil bergaya gothic. Terkadang juga melihat tema dari acara yang akan diisi seperti apa konsepnya.

Cewek yang mengagumi Sarah Mclachan dan Shania Twain ini berharap, lagu di album Geisha bisa mewakili perasaan semua orang. Sebagai band baru, masukan dan kritik dari banyak pihak menjadi pelecut semangat geisha berkembang dan selalu lebih baik. (tin)

Nama : Narova Morina
Nama panggilan : Momo
TTL : Pekanbaru, 7 Juni 1986
Posisi : Vokal
Musisi Fav : Shania Twain, Sarah Mclachan, Avril Lavigne, Paramore

Leave a comment »

Tanda tangan kontrak Lansung jatuh Sakit

Setelah tandatangan kontrak rekaman album dengan Musica Studio, band Geisha bersiap masuk dapur rekaman. Tanpa diduga, ketiga personel band itu Momo (vokal), Robby (gitar) dan Dhan (keyboard) dalam waktu bersamaan terserang penyakit tipus, harus dirawat di rumah sakit

Tak ayal karena hal tersebut, proses rekaman album pertama Geisha terpaksa ditunda sebulan, sampai ketiga personel fit. Akhirnya mereka sepakat off batal tampil mengisi beberapa acara musikdan pulang ke Pekanbaru, tempat band ini berasal.

“Kecapean semua, fisik terlalu di forsir, herannya bisa bertiga gitu yang sakit, sama lagi penyakitnya, kena tipus. Daripada proses rekaman album ga jalan, sepakat istirahat dulu biar kondisi fisik fit, “kata Robby.

Setelah satu bulan pulang kampung ke Pekanbaru, dengan gairah baru Geisha menjalani proses rekaman album. Entah karena mereka multi talenta atau sudah persiapan matang, cukup satu bulan waktu yang diperlukan untuk, seluruh proses recording mulai dari aransemen musik sampai take vokal.

“Aransemen musik di studio cuma dua minggu, sisanya jatah Momo isi vokal, ya hampir sebulan. Materi lagu memang sudah lama dipersiapkan, dari 29 lagu hasil karya kami, yang lolos masuk album 12 lagu, “jelas Robby.

Band yang penah mengisi album kompilasi A Mild Live Wanted 2007 ini mengaku, dua tahun menunggu mendapat kesempatan membuat album perdana. Momo mengatakan, pihak Musica Studio memang mencari waktu yang pas mengorbitkan mereka.

Album pertama mereka di luncurkan 1 Juni 2009 dengan single pertama Jika Cinta Dia dan mendapat respon yang cukup bagus di masyarakat. Promo ke berbagai kota di Indonesia dan tampil di stasiun televisi gencar dilakukan.

Pertengahan bulan Oktober ini, Geisha meluncurkan single kedua “Takkan Pernah Ada”. Momo mengatakan, video klip dan lagunya sudah sering diputar di radio dan televisi.

Robby menjelaskan, lagu Tak Kan Pernah Ada berkisah seorang cowok yang cinta mati dengan dengan pasangannya. Mau apapun yang terjadi, sampai selamanya cewek itu selalu ada di hati, pikiran sampai larut dalam darah.

“Liriknya dalam banget, saya aja pas nyanyi jadi terbawa suasana gitu. Untung feel nya dapat, musiiknya pop sedikit lembut, semoga masyarakat suka, “ungkap Momo.

Kesibukan jadwal manggung dari satu tempat ke tempat lain membuat personel Geisha belum mengetahui total penjualan album perdana dan Ringbacktone (RBT). Robby menerangkan, pihak Musica Studio belum secara resmi memberikan info penjulaan album dan RBT, Geisha tidak begitu ambil pusing terkait hal tersebut.(tin)

Biofile
Geisha
Berdiri : Desember 2003
Album : Anugrah Terindah (2009)
Personel

Nama : Narova Morina
Nama panggilan : Momo
TTL : Pekanbaru, 7 Juni 1986
Posisi : Vokal
Musisi Fav : Shania Twain, Sarah Mclachan, Avril Lavigne, Paramore

Nama : Robby Satria
Nama panggilan : Robby
TTL : Pekanbaru, 13 Mei 1986
Posisi : Gitar
Musisi Fav : Coldplay, Radiohead, Toto, The Coors, The Mili, Miv

Nama : Ashari Aulia
Nama panggilan : Nard
TTL : Pekanbaru, 29 April 1986
Posisi : Bass
Musisi Fav : Angel and Airwaves, Keane, Coldplay

Nama : Achmad Rasyid
Nama panggilan : Aan
TTL : Pekanbaru, 26 Desember 1985
Posisi : Drum
Musisi Fav : Dashboard Confessional, AVA, Radiohead

Nama : Ahmad Ramadhan
Nama panggilan : Dhan
TTL : Pekanbaru, 15 Mei 1987
Posisi : keyboard
Musisi Fav : Hello Goodbye, Keane, U2 (tin)

Leave a comment »

Tak Bisa Ke Lain Hati

Sepuluh tahun bekerja di dunia entertainment membuat  Edo Bambang Setiabudi  tak bisa pindah ke lain hati. Justru karena bekerja di bisnis hiburan dia menemukan bidang pekerjaan yang sesuai keinginannya

Operasional Manager Aygo Rumah Bernyanyi Keluarga ini mengatakan, pernah bekerja menjadi pedagang serabutan, tapi usaha yang dijalankan kurang berhasil. “Disinilah jiwa saya sebenarnya (dunia hiburan), “ungkap Edo, Selasa (13/10)

Edo mengawali karir bekerja sebagai bartender di Golden Dragon Boat Cafe restoran kurang lebih empat tahun. Berbekal sekolah di SMK Pariwisata, dia bisa menerapkan ilmu yang di dapat di bangku sekolah.

Sebagai seorang bartender tidak hanya dituntut piawai meracik berbagai macam aneka minuman, tapi harus bisa menghibur pengunjung yang datang. Juggling (atraksi meempar botol minuman) menjadi keahlian yang harus dimiliki seorang bartender menghibur penonton yang duduk di meja bar.

Profesi sebagai bartender tak ayal membuatnya harus mencicipi aneka jenis minuman untuk menciptakan campuran rasa yang ciamik. Tak hanya itu, Edo mengoleksi aneka jenis botol minuman dari berbagai merk.

Lima puluh botol minuman luar negeri berbagai ukuran dikoleksinya karena memang hobi. “Koleksi botol minuman terpanjang 1.5 meter, yang terkecil 2 mili meter, semua disimpan dirumah, “ungkapnya.

Tiga bulan menjabat sebagai operasional manajer, dia mengaku masih banyak yang harus dipelajari dan dikembangkan. Sharing dengan pimpinan bagaimana memberikan pelayanan terbaik bagi pengujung. sampai urusan tehnik melobi menjadi salah satu hal pokok seorang operasional manajer

Meskipun sudah malang melintang menjabat berbagai posisi baik itu di tempat billiard, cafe sampai karouke, Edo mengaku, menjadi bartender adalah pekerjaan favoritnya. “masih suka latihan juggling dan nge-mix minuman kalau lagi kangen, “ujarnya tersenyum. (tin

Nama : Edo Bambang Setiabudi
Nama Panggilan : Edo
Profesi : Operasional Manager Aygo Rumah Bernyanyi Keluarga
Istri : Leni Marlina
Anak : Nouval R Setiawan
Marvel Aprilia
Hobi : bilyard, jugling botol minuman
Pendidikan : SMK Pariwisata Sahid Bandar Lampung
Pengalaman Kerja :
2001-2005: Bartender di Golden Dragon Boat Cafe
2006-2007: Capt Bartender di Glow Billiard
2008 : Asisten Manager di Joy Billiard dan Manager di Space Lounge

Leave a comment »

Satu Setengah Tahun Menunggu Launching Album

Menanti rilis album major label pertama sampai satu setengah tahun setelah tandatangan kontrak awal tahun 2008, tidak membuat Gift putus asa. Mereka menyadari, pihak label mempunyai srategi tersendiri agar peluncuran album mendapat sambutan hangat dari penggemar.

“Terjun di industri musik Indonesia  apalagi major label sudah menjadi resiko, ada band baru yang cepat meluncurkan album pertama, ada juga yang lama. Semua demi kepentingan bisnis, mau tidak mau harus ikut pola yang ada, “jelas Fahim, drummer Gift

Proses peluncuran album pertama sangat disyukuri band Gift, mereka menamakan album mereka Kado Istimewa. Fahrul menjelaskan, Kado Istimewa bermakna semua lagu dari Gift di album perdana sebagai wujud hadiah kepada penggemar.

Musisi Baron dan Bambang, keyboardist Kahitna turut membantu proses penggarapan album perdana Gift. Bahkan Baron menjadi addtional gitar untuk lagu terima kasih, sedangkan Bambang Kahitna memberi unsur string section beberapa lagu Gift.

Anak kandung dari Syech Abidin, drummer band rock tahun 70 an A.K.A dan S.A.S ini mengaku
orangtua tidak campur tangan dalam proses pembuatan album. “Semua lagu kami semua yang menciptakan, ayah hanya kasih semangat kalau memang serius di musik, jangan setengah-setengah, “ungkap Fahri, bassist Gift

Fahrul menambahkan, meskipun sebagai voialis utama Gift, Fahri dan Fahim turut ambil bagian menyanyikan dua lagu dari album Gift. Kualitas suara dua saudaranya kandungnya juga tidak kalah dengan Fahrul.

Saat tampil mengisi acara musik, aksi menyanyi Fahri dan Fahim sering dipertontonkan, misalkan Fahri menjadi vokalis, maka Fahrul sebagai pemain bass. Apabila Fahim sebagai vokalis, dia langsung bernyanyi sambil bermain drum.

Tak ayal, aksi panggung yang mereka pertontonkan mendapat sambutan meriah dari penonton yang melihat aksi mereka. Fahrul mengaku, itu menjadi salah satu keunikan yang memang sengaja ditujukan untuk menghibur penonton yang hadir. (tin)

Leave a comment »